KAMMI Unnes adakan Talkshow Pergerakan

21 01 2012

KAMMI Unnes – Selaras dengan visi KAMMI yaitu sebagai wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan pemimpin masa depan yang tangguh dalam upaya mewujudkan masyarakat Islami di  Indonesia. Maka, sebagai upaya untuk menyiapkan kepemimpinan di masa mendatang, Departemen Kajian Strategis KAMMI Komisariat Unnes pada hari ini (20/01) mengadakan agenda Talkshow Pergerakan bertajuk “Transformasi Muslim Negarawan Menuju Kepemimpinan Nasional” yang bertempat di Gedung Pertemuan Graha Cendekia FT Unnes. Acara ini diikuti oleh mahasiswa dari Unnes dan beberapa di antaranya jauh-jauh datang dari Undip.

Pembicara dalam Talkshow, Ust. Muhammad Ilyas, Lc., Ketua PP KAMMI Pusat periode 2011-2013 di awal sesi, menyampaikan tentang realita-realita yang terjadi di Negara ini. Beliau menyampaikan bahwasanya pemimpin yang memimpin bangsa saat ini tidak mempunyai potensi dan kapasitas ilmu yang mumpuni. Padahal, Indonesia adalah negara yang besar, sehingga dibutuhkan orang-orang yang kuat, berjiwa besar, mempunyai mimpi besar, berpikir besar untuk memipin Indonesia. Karena bangsa yang besar, kompleksitas masalah yang dialami akan semakin rumit dan akan menghadapi tantangan eksternal dan internal yang luar biasa dahsyat.

Mimpi yang besar kiranya juga perlu diimbangi dengan kemampuan membangun kapasitas personal. Selain itu calon pemimpin bangsa harus memiliki ritme belajar yang tinggi. Beberapa hal yang harus dipelajari oleh calon pemimpin bangsa antara lain ‘Ulumul Islam sebagai upaya agar memiliki basis ideology islam yang mengakar, belajar sejarah sehingga dapat mengambil pelajaran di masa lampau, mengetahui pelaku sejarah, karakternya dan prestasi-prestasi yang tertoreh, sehingga dapat meneladani para pahlawan. Selain itu pengetahuan tentang geografi tidak kalah penting, ilmu tentang wilayah dan ruang yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas ekspansi dakwah, serta ilmu tentang sastra penting untuk memperkuat narasi kepemimpinan.

Peserta sangat antusias mendengarkan paparan dari pak Ilyas, tetapi waktu terasa berjalan begitu cepat. Acara berakhir sesaat setelah dhuhur. Talkshow Pergerakan ini merupakan bentuk usaha KAMMI untuk menginternalisasi visi kepemimpinan, sehingga KAMMI siap untuk menyambut kepemimpinan nasional di masa mendatang. (ri)





Meiji dan Restorasi Progresif KAMMI

20 01 2012

Oleh : Abu Jundullah Rabbani

Restorasi, adalah satu kata yang akhir – akhir ini cukup familiar terdengar ditelinga kita, terutama setelah salah satu new comer Parpol memakai jargon itu. Tetapi bukan berarti dengan mengambil tema restorasi, saya menjiplak Partai yang berjargon sama, makna dari restorasi itu sendiri yang saya kira pas untuk dilakukan terhadap gerakan yang sudah tiga tahunan ini membersamai saya. Jika kita mengacu kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia, restorasi berarti pengembalian atau pemulihan terhadap keadaan semula atau berarti pemugaran. Jadi sebenarnya makna restorasi itu sendiri adalah perbaikan, sesuai dengan gerakan ini, adalah gerakan perubahan, ishlah wa taghyir. Kalau kemudian kita mengambil salah satu contoh restorasi yang bisa dikatakan berhasil merubah tatanan masyarakat adalah restorasi meiji di Jepang.

Seperti diketahui, sebelum 1853 Jepang betul-betul merupakan negara yang sangat tertutup dan diperintah dengan cara yang sangat feodalistik. Dorongan modernisasi Jepang berawal dari  hadirnya angkatan laut Amerika dibawah  pimpinan Laksamana Perry. Laksamana Perry minta pintu gerbang Jepang dibuka dan minta berunding dengan tujuan agar Jepang membuka diri kepada pihak asing, berdagang dan membolehkan kapal asing merapat di pelabuhan Jepang.

Read the rest of this entry »





Komitmen terhadap Pancasila (Refleksi peringatan Hari Kesaktian Pancasila)

11 10 2011

Oleh : Mahardhika Setyawan

(Ketua KAMMI Komisariat Unnes 1432 H)

Pada awal Oktober lalu, rakyat Indonesia memperingati hari Kesaktian Pancasila. Hari dimana kita mengingat perjuangan bangsa Indonesia menumpas gerakan makar yang terjadi tanggal 30 September yang dilakukan oleh PKI. Begitulah kesaktian Pancasila, mampu mempersatukan elemen bangsa Indonesia waktu itu. Dasar-dasar nilai yang terkandung dalam Pancasila selalu menjadi elemen penggerak perubahan bangsa Indonesia dari waktu ke waktu. Komitmen untuk melaksanakan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila secara benarlah yang membuat bangsa ini selalu melaukan perubahan dari waktu ke waktu.

Di fase awal kemerdekaan, simpul komitmen terhadap Pancasila adalah cita-cita bersama mewujudkan negara yang mampu memenuhi hajat bangsa. Dan hajat bangsa itu dikonstruksikan dalam UUD 1945 dimana butir-butir Pancasila dimasukkan ke dalam Pembukaan UUD 1945. Di era Orde Lama, komitmen terhadap Pancasila kuat karena cita-cita nasional bangsa Indonesai terus didengungkan, walaupun berada dalam kemiskinan dan ketertinggalan di berbagai bidang. Presiden Soekarno pun terpersonalisasi dengan ide dan jiwa Pancasila. Dan, jatuhnya Orde Lama juga karena muncul persepsi massa bahwa negara mulai gagal memnuhi hajat bangsa seperti dicitakan dalam Pancasila dan UUD 1945. Lalu Orde Baru pun muncul, lalu kita mengenal P4 untuk membangun soliditas ideologi Pancasila dan program pembangunan Repelita. Pada awalnya terbangun kembali kepercayaan dan komitmen terhadap Pancasila, seiring dengan mulai nampaknya hasil pembangunan di mata rakyat. Namun, pada pertengahan Orba, mulai muncul paradoks baru. Kaum terdidik menilai karakter kekuasaan Orba bertabrakan dengan nilai-nilai Pancasila. Lalu muncul tren di generasi muda yang berpersepsi minor terhadap Pancasila akibat dominasi tafsir dan paradoks kekuasaan yang a-Pancasila-is. Akhirnya di era 90-an menguat gerakan perlawanan pro-demokrasi dan reformasi dengan isu bersama lawan KKN rezim Orba yang a-Pancasila-is. Bisa dikatakan, perlawanan terhadap Orba ini muncul karena penilaian terhadap negara yang gagal mewujudkan cita-cita nasional, Indonesia terjebak dalam krisis multidimensi.

Read the rest of this entry »





Open House dan Buka Bersama Komisariat KAMMI Unnes

22 08 2011

Ramadhan memasuki hari ke 21, ada rongga menarik yang menjadikan pengendara kendaraan bermotor harus sejenak menengok ke arah KPRI Handayani di Simpang 7 Unnes. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Solutif  Unnes mengadakan agenda Open House dan Buka Bersama. Acara yang bertajuk “Menjadi Aktivis Berprestasi Siapa Takut” ini  berlangsung pada tanggal 21 agustus 2011 ini diselenggarakan untuk menyambut mahasiswa baru UNNES dan sekaligus mengikat kembali ukhuwah dengan mengadakan buka bersama.

Acara yang terselenggara dipandu oleh Choirul Amin selaku Sekjen Komsat KAMMI Unnes dan mengundang salah seorang aktivis yang sukses  yaitu Ustadz Muhammad Shoheh,S.Pd, M.Pd.  Beliau adalah seorang mahasiswa lulusan Universitas Negeri Semarang sekaligus Aktivis KAMMI yang sukses dengan akademik dan organisasinya. Beliau adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial yang akhirnya lulus dengan nilai yang memuaskan dan menjadi dosen di Unnes.

Pembicara memberikan materi tentang bagaimana cara praktis yang dapat di tempuh mahasiswa baru yang kini tengah menginjak masa orientasi kemahasiswaan kampus. Pengenalan dan penyesuaian diri adalah hal yang harus dilaksanakan. Bagaimana kehidupan kampus sangat berbeda dengan kehidupan di jenjang pendidikan di bawahnya. Setiap anak yang sebagian besar merupakan mahasiswa yang merantau dari kota asalnya dan kini berasa di UNNES  diharapkan dapat cerdas dalam memilih dan menilai kegiatan yang akan di pilihnya untuk mengisi kekosongan dan kelonggaran waktu.

Tips dari pembicara adalah “BISA” dalam menghadapi kehidupan kampus yaitu Berani, Imajinasi, Senang dan Aksi. Hal yang dimaksud adalah bagaimana seorang mahasiswa harus mampu berani bermimpi dengan imajinasinya sekaligus dapat bertindak dengan perencanaan yang matang. Seorang mahasiswa harus mempu memotivasi disi untuk senantiasa menyenangis apa yang dia kerjakan bukan menjadikan beban tugas kuliah maupun amanah organisasi  atau mahasiswa adalah kaum intelektual yang mempu mengaplikasikan ilmunya dalam aksi atau tindakan nyata dalam perbaikan masyarakat.

Demikian acara ini di tutup dengan sesi tanya jawab dan buka bersama dengan takjil yang di buat langsung oleh kader KAMMI. Semoga acara ini bukan hanya agenda yang terlaksana namun juga merupakan sebuah agenda yang dapat mengena hati mahasiswa baru sehingga hal maupun informasi yang di dapat bisa bermanfaat dan di aplikasikan di kehidupan kampus mendatang .(arma)





Kunjungan KAMMI Komsat Unnes, Ke Jawa Pos (Radar Semarang)

15 07 2011

Jawa Pos – Pengetahuan tentang jurnalistik sangatlah penting dalam memberikan opini dan kabar kepada khalayak publik. KAMMI Komisariat Unnes demi meningkatkan kemampuan dalam menyuguhkan opini dan berita yang membangun. Maka, jumat (8/7) kemarin KAMMI Komsat unnes dari program kerja Dept. Humas mengadakan kunjungan ke Redaksi koran jawa pos yang bertempat di jalan perintis kemerdekaan, Banyumanik. Sambutan hangat diberikan oleh Redaktur Koran Jawa Pos, Pratono.

Tidak bisa dipungkiri keadaan kantor memang lengang pada jam seperti itu. Seluruh anggota redaksi sibuk mencari berita. Agenda kunjungan dimulai dengan memaparkan tentang kilas balik jawa pos yang mempunyai kantor pusat di Surabaya.Perjalanan membangun opini publik yang dihadapi sungguh sangat panjang. Jawa Pos merupakan gruop yang mampu membawahi beberapa media koran yang tersebar ke seluruh indonesia meliputi Radar semarang, Radar magelang, Meteor, dan sebagainya.

Para anggota KAMMI Komsat Unnes dalam kunjungan ini sangat antusias. Terbukti diskusi panjang mulai dari mengelola sebuah media cetak sampai jual beli berita dikupas habis disini. Redakasi juga mengajak melihat proses pengerjaan berita dari pencarian, membuat database sampai proses layout.

“Kami harap kujungan ini sebagai salah satu proses pembelajaran jurnalistik” ungkap Pranoto, redaktur Jawa Pos -Radar Semarang. Acara ini selain bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan juga sebagai sarana agar relasi KAMMI Komsat Unnes mampu merambah ke semua tataran terutama media cetak. (Do)





Plagiarisme (Akankah) Disepakati sebagai Budaya Indonesia?

15 07 2011

Tahun 2010 yang lalu kita cukup tercengang dengan munculnya informasi 1700 karya tulis guru di Riau yang digunakan sebagai prasyarat sertifikasi  adalah hasil plagiasi. Atau yang cukup menggegerkan dunia perguruan tinggi adalah tindakan plagiasi yang dilakukan seorang guru besar. Seolah menjadi sebuah fenomena gunung es, Hanya sedikit kasus yang mencuat di media massa. Yang tidak terekspose mungkin lebih banyak.

Wikipedia mendefinisikan plagiarisme sebagai penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri.  Dari definisi ini setidaknya kita bisa menganggap plagiataor sebagai seorang pembohong publik.  Banyak cap lain yang diberikan pada aksi plagiarisme ini. Kecurangan akademik, kejahatan intelektual, atau yang cukup menyentil pribadi orang timur, kejahatan moral.

Plagiarisme saat ini tidak hanya dilakukan sebatas pada karya tulis yang dipublikasikan secara umum. Yang cukup sering dipilih oleh mahasiswa adalah kegiatan turunan plagiarism, yaitu  mencontek dan copy paste tugas.

Dunia maya menjadi salah satu lahan subur untuk melancarkan aksi plagiarism karena banyaknya informasi yang dapat diambil. Tanpa tanggung, mahasiswa sering membabat habis karya- karya tersebut tanpa tedeng aling- aling. Seringkali tidak ditemukan pencantuman sumber informasi pada tugas- tugas tersebut sebagai bentuk penghormatan insan  akademis terhadap ide manusia.

Fenomena turunan plagiasi pun masih sering terjadi saat ujian berlangsung. Mencontek masih disediakan tempat sebagai trend negatif di kalangan mahasiswa. Masyarakat intelektual ini pun bertekuk lutut di hadapan kertas ujian.  Selama ini, nilai yang memuaskan menjadi tujuan utama, tetapi kadang tidak diiringi dengan proses usaha yang maksimal.  Sangat disayangkan memang bahwa banyak dari penyandang misi agent of change ini secara sadar menyerah pada sejumlah soal- soal dengan cara plagiasi.

Plagiarisme dapat  disebabkan oleh beberapa hal. Keinginan untuk memperoleh hasil yang baik menjadi motivasi utama. Hasil yag baik tersebut nantinya juga cukup berkontribusi untuk mempopulerkan nama. Setidaknya dari hasil- hasil yang baik tersebut akan memunculkan “nama baik” di lingkungan plagiator. Selain itu, harapan memperoleh  hasil yang tinggi juga didorong oleh tuntutan lingkungan sekitar, orang tua misalnya.

Meskipun “nama baik” akhirnya diperoleh, pada hakikatnya baik tersebut  hanyalah seolah- olah baik. Seolah- olah tentu artinya bukan hal yang sebenarnya. Hanya mirip. Seolah- olah kaya, berarti bukan orang kaya, hanya mirip. Seolah- olah berkuasa, diartikan belum tentu berkuasa, hanya berlaku mirip. Kenyamanan berdasarkan “keseolah-olahan” tentunya tidak bisa menimbulkan ketenangan secara optimal.

Plagiarisme, dalam hal ini mencontek, bisa dikategorikan sebagai bibit- bibit korupsi. Secara tidak langsung, aksi ini cukup berkontribusi memupuk keberanian seseorang untuk mengakui hal yang bukan miliknya. Bisa berupa ide, tulisan, atau karya lain.

Tindak korupsi adalah pencurian yang menggunakan sistem rapi. Mengambil hak orang lain, lalu menganggap hak tersebut adalah miliknya. Mencontek  tidak jauh beda. Tindakan ini termasuk pencurian ide. Tidak salah memang jika aksi ini sering dikatakan sebagai kejahatan intelektual. Mencontek merupakan bentuk pengingkaran terhadap penghargaan ide. Itu pun jika ide masih memperoleh tempat untuk dihargai.

Setiap tindakan memiliki akibat atau dampak. Mencontek tentu memiliki dampak negatif. Setidaknya bagi pemilik ide asli, plagiator dan pembaca atau konsumen.

Pemilik asli merasa dirugikan karena ide dan karyanya dicuri atau dibajak. Lama- kelamaan hal ini kan menimbulkan penurunan drastis kreativitas. Masyarakat tidak lagi mau berkarya. Buat apa berkarya kalau akhirnya akan diplagiat. Hal ini sudah dibuktikan oleh Bimbo. Grup ini tidak memproduksi lagu baru sebelum pembajakan hilang dari bumi Indonesia.

Sedangkan dampak bagi diri sendiri, selain diliputi dengan hasil yang “seolah- olah baik”, kemampuan tidak akan meningkat selama karya yang dihasilkan hanya copy paste. Stagnan.

Bagi seorang  pembaca ketika menikmati karya hasil plagiasi mungkin saja akan terkagum dengan pengkaryanya. Namun sejatinya ia sedang menikmati penipuan yang dilakuakan oleh sang plagiator.

Sekali lagi, aksi plagiarisme menjadi hal yang sangat dimaklumi oleh para akademisi kita. Sering munculnya wabah plagiarisme ini bisa saja suatu saat  membudaya ketika tidak ada keinginan untuk menghilangkannya Ketika tidak ada upaya menghentikan dari tiap individu, lama- kelamaan  plagiarisme akan menjadi salah satu “budaya Indonesia”.

Adakah yang ikhlas dengan pernyataan tersebut? (If)

 





MENELISIK FEMINISME DAN KESETARAAN PERAN PEREMPUAN DALAM SEKTOR PUBLIK

15 07 2011

Perjuangan Kartini dalam membela hak-hak kaum perempuan dan perjuangannya yang menyejarah layak dikenang dan dijadikan spirit perjuangan wanita Indonesia. Tanggal 21 April, bangsa Indonesia menyebutnya sebagai Hari Kartini. Ia memperjuangkan kesetaraan hak-hak antara laki-laki dan wanita. Terutama hak dalam memperoleh pendidikan yang dapat kita rasakan pada saat ini. Ia menjadi salah satu spirit perjuangan gerakan feminisme yang berkembang di Indonesia.

Namun, tidak bijak sepertinya jika hanya menyebutkan Kartini sebagai satu-satunya pejuang hak perempuan yang melawan diskriminasi oleh kultur masyarakat pada masanya. Nama- nama seperti Cut Nyak Dien, Dewi Sartika atau nama- nama perempuan lain yang mungkin belum ditampilkan dalam buku sejarah Indonesia bisa menjadi rujukan dalam perjuangan kaum perempuan.

Menengok kembali sejarah, mendiskusikan feminisme, jika dikaitkan dengan Islam tidak akan kita lepaskan dari kehadiran Al-Qur’an yang secara komprehensif dan sangat jelas memaparkan bahwa hak asasi perempuan dan laki-laki yang sama. Meliputi hak dalam beribadah, keyakinan, pendidikan, potensi spiritual, hak sebagai manusia, dan eksistensi menyeluruh pada hampir semua sektor kehidupan. Islam datang sebagai revolusi yang mengeliminasi diskriminasi kaum Jahiliyah atas perempuan dan mengangkat derajat perempuan masa itu menjadi lebih manusiawi.

Datangnya Islam mengembalikan perempuan sebagai manusia utuh setelah mengalami hidup dalam kondisi yang mengenaskan tanpa kredibilitas apapun. Tidak jarang perempuan hanya diposisikan sebagai komoditas tanpa nilai. Penghargaan Islam atas eksistensi perempuan diteladankan dalam sisi-sisi kehidupan Nabi Muhammad saw. terhadap istri-istri beliau, anak maupun hubungan beliau dengan perempuan di masyarakatnya. Kondisi dinamis perempuan masa risalah tercermin dalam kajian-kajian yang dipimpin langsung Rasulullah. Terlihat jelas bagaimana perempuan masa itu mendapatkan hak untuk menimba ilmu, mengkritik, bersuara, dan berpendapat.

Terlihat juga dari geliat aktivitas perempuan sahabat Rasullullah dalam segala sektor kehidupan. Sejarah kehidupan istri-istri Rasul pun mengindikasikan aktivitas aktif dimana Khadijah ra. adalah salah satu bussineswoman yang sukses masa itu dan Aisyah ra. yang dikenal dengan kecerdasannya. Bahkan hawa feminis pun telah terdengar dari suara-suara protes dan pertanyaan yang diajukan Ummu Salamah ra. atas eksistensi perempuan. Sejarah Islam dan aturan yang dibawa ingin memberikan hak dan kemerdekaan perempuan, mendorong perempuan untuk maju, berkarya mendapat perlindungan. Tentu hal ini tidak berbeda dengan deklarasi dan tuntutan yang diajukan feminisme atau pejuang hak asasi perempuan di berbagai belahan manapun dan masa kapanpun jika bentuk tuntutan itu adalah persamaan hak yang mengedepankan pengertian dan kesadaran bahwa perempuan dan laki-laki adalah sama hak dan kewajibannya, hanya secara kodrat biologis mereka berbeda.

Jika melihat dalam konteks kekinian, keseimbangan dalam setiap sektor kehidupan menjadi titik perhatian yang penting dalam penetapan keseimbangan tersebut. Tor kehidupan, baik ekonomi, politik, sosial, dan budaya perempuan memiliki peran yang sederajat dengan kaum lelaki. Pun dalam bidang politik, perempuan memiliki peran yang signifikan. Namun, kenyataan yang terjadi sekarang adalah peran perempuan dalam sektor publik masih minim.

Kuota 30% yang diberikan untuk keterlibatan perempuan dalam politik dan keterwakilan perempuan dalam parlemen yang diamanatkan oleh Undang-undang No. 10 tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif dan Undang-undang No. 2 tahun 2008 tentang Partai Politik masih sangat jauh di kenyataan sesungguhnya. Walau sejatinya angka 30% ditinjau dengan hitungan statistika, berdasarkan jumlah masih dinilai sangat timpang. Namun sebagian kalangan perempuan yang lain menyambut hal ini sebagai langkah maju untuk memberi gerak bagi perekrutan kaum perempuan dalam langgam politiknya. Karena selama ini perempuan hanya berjumlah 12 % saja yang berkiprah dalam ruang sidang di Senayan.

Diantara kendala yang ada adalah dalam hal paradigma berpikir tentang perempuan. Sebagian masyarakat menganggap bahwa perempuan tak layak memasuki sektor publik karena akan mengurangi kehormatan dan kemuliaan dirinya. Selain itu kultur di masyarakat yang lebih bersifat diskriminatif  terhadap kaum wanita. Padahal dalam Islam, wanita memiliki derajat kemuliaan yang tinggi. Bahkan, kaum wanita dituntut untuk terlibat dalam berbagai sektor kehidupan bersama kaum laki-laki dalam rangka memperbaiki keadaan menuju kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang lebih islami. Dalam konteks ini wanita adalah pendidik generasi.

 Abdul Halim Abu Syuqqah dalam buku Kebebasan Wanita menuturkan bahwa perempuan dalam Islam memiliki derajat yang mulia dihadapan Allah. Dalam aplikasinya, Rasulullah sangat memuliakan dan menghormati wanita. Islam tidak memenjarakan wanita berikut segala macam potensi yang dimiliki. Justru, jika menilik kembali pada jejak langkah terbaik umat Islam pada zaman kenabian menunjukkan contoh keteladanan optimalisasi semua potensi baik laki-laki, maupun perempuan dalam ladang-ladang amal shaleh di berbagai bidang kehidupan.

Untuk menumbuhkan kesadaran politik sejak dini, keluarga menjadi institusi pendidikan politik pertama bagi anak. Penumbuhan kesadaran dan keterlibatan perempuan dalam partisipasi sosial politik dalam membangun masyarakat melalui kegiatan amal ma’ruf nahi mungkar, memberikan nasihat dan dengan mendukung usaha positif sehingga wanita tidak hanya menjadi korban mobilisasi politik. Sehingga perempuan bukanlah orang yang tidak mengetahui tentang perkembangan dunia luar. Mereka adalah generasi yang memiliki kepekaan tinggi terhadap realitas masyarakat sehingga mendorong perempuan untuk berpartisipasi dan berkontribusi.

Namun,  realitas saat ini memberikan gambaran betapa buram potret perempuan. Banyak dari mereka  yang menjadi korban eksploitasi kaum kapitalis.

Hanya dalam Islam, perempuan mendapatkan posisi yang terhormat. Wanita dilindungi oleh Islam sebagaimana Islam melindungi laki-laki. Mereka dijaga oleh Islam sebagaimana Islam menjaga laki-laki. Demikianlah Islam memberikan posisi terindah bagi kaum wanita. (fy)

 





Mahasiswa Baru, Generasi Intelektual

6 06 2011

Keluarga besar KAMMI Komisariat Unnes mengucapkan selamat datang untuk para mahasiswa baru para pemuda intelektual generasi penerus bangsa yang telah berhasil melewati sebuah fase sehingga berhasil menjadi bagian dari civitas akademika di kampus Unnes Konservasi.

Sejarah mencatat bahwa mahasiswa telah dan akan selalu  menjadi mainstream sekaligus katalisator dalam melakukan gerakan-gerakan untuk meraih kehidupan era baru. kehidupan yang bersih. Kehidupan yang ideal. Karena mahasiswa ingin kembali menata  taman kejayaan Indonesia. Walau usaha dalam meraih cita-cita tersebut tidak senatiasa berhasil sesuai rancangan dan tidak selalu berakhir dengan kemenangan, akan tetapi semagat pengorbanan tidak pernah lepas dari pundak-pundak para mahasiswa karena mereka yakin bahwa awal kemenangan adalah disaat mereka mampu untuk mulai mengerjakan agenda kemenangan tersebut. Selanjutnya mereka akan selalu berusaha mengalirkan semangat perjuangannya dalam setiap aliran darah dan denyut jantung para generasi penerus seperti apa yang pernah diungkapkan oleh salah satu tokoh penggerak perlawanan rakyat, Bung Tomo. Beliau mengatakan bahwa “perjuangan tidak memiliki arti bila tidak ada generasi penerus yang memiliki jiwa patriot” Generasi baru inilah yang nantinya menjadi harapan dalam melanjutkan estafet perjuangan sampai akhirnya kemenangan itu diraih dan masyarakat dapat merasakan manisnya kehidupan ini. Generasi mahasiswa baru intelektual muda.

Cita-cita itu akan lenyap jika dari sosok seorang mahasiswa intelektual muda bangsa hanya memilih untuk menjadi orang-orang yang bersantai tanpa ada nilai kebermanfaatan dan menikmati ketakberdayaan. Memilih sebagai generasi yang individualis, apatis dan cenderung pragmatis atau tidak mau melihat keadaan disekitarnya, melihat realita sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan bangsa ini. Bangsa yang telah kehilangan karakternya yang sangat dibanggakan oleh para terdahulu kita. Akankah kita hanya diam saja?

Bertolak dari tantangan tersebut, mutlak bagi seluruh mahasiswa generasi penerus bangsa yang konon katanya menjadi kaum intelektual kebanggaan bangsa Indonesia. Adalah bangkit dari segala kekalahan, menghilangkan belenggu kemalasan dan membuang jauh rasa pesimis. Kemudian bergerak secara nyata atas nama idealisme sebagai seorang mahasiswa, bahwa, motivasi kami adalah kebermanfaatan dan keikhlasan,  ia akan selalu membela kebenaran. Karena mahasiswa sebagai generasi muda merupakan agen perubahan dan pemimpin masa depan bagi bangsa ini.

Berbekal keyakinan akan hadirnya masa depan yang cemerlang melahirkan kekuatan baru yaitu energi perbaikan bangsa. Kemudian bersatu padu menjadi sebuah akar kekuatan pondasi kuat untuk nantinya dipergunakan sebesar-besarnya bagi kebangkitan negeri ini yang tengah sekarat dan sakit parah. Karena, kebangkitan negeri ini tidak mungkin berjalan tanpa usaha dari seluruh elemen bangsa, termasuk didalamnya kita, sebagai sosok “Mahasiswa”. Selamat Berkarya dan selamat berprestasi di kampus konservasi. KAMMI menanti kontribusimu untuk bersama membangun bangsa ini. (fy)





Training Kepemudaan; Be The Real Muslim Negarawan

6 06 2011

Akhir bulan Mei lalu, KAMMI Solutif Unnes 1432 H menyelenggarakan gawe besar yaitu Training Kepemudaan atau yang biasa disebut Dauroh Marhalah(DM) I KAMMI Komisariat Unnes. Kali ini adalah yang ke-25. Acara yang berlangsung di Aula SDIT Cahaya Bangsa diikuti 28 peserta dari berbagai fakultas dari Unnes dan Undip.

“Dalam Dauroh Marhalah 1 peserta diajak untuk sadar akan problematika umat dan bagaimana cara menyelesaikannya melalui materi yang sudah mereka dapatkan” Terang Ika Amalia selaku Steering Commite DM I Unnes angkatan XXV. Materi dalam training ini antara lain, Syahadatain sebagai titik tolak perubahan, Syumulyatul Islam, Problematika Ummat Kontemporer, Islam Pemuda dan Perubahan Sosial, ke-KAMMI-an dan manajemen aksi. “Intinya belajar mengaplikasikan dan menjadi The Real Muslim Negarawan.” Tambahnya.

Acara yang berlangsung selama tiga hari ini, jumat(27/05) hingga ahad(29/05) diisi oleh pemateri-pemateri dari KAMMDA Semarang di antaranya Ibnu Dwi Cahyo, Ismaturrohman, Yuniar Kustanto dan beberapa narasumber lain seperti Tri Hartanto, Aryanto Nugroho dan Taufiq Kurniawan.

“Banyak pelajaran yang diperoleh ketika diskusi yang merupakan cerminan intelektual dan pemikiran kritis pemuda islam saat ini. Semoga DM 1 menjadi pemantik kesadaran pemuda islam untuk pencarian pemahaman dan titik tolak perbaikan serta kontribusi nyata di jalan dakwah untuk membumikan islam.” Harap Arma Setyo Nugrahani(FE,Unnes), peserta terbaik putri dalam Dauroh Marhalah I angkatan XXV. Sedangkan peserta terbaik putra adalah Imammudin(FBS, Unnes).

Dauroh Marhalah 1 merupakan salah satu bentuk keseriusan KAMMI sebagai wadah pembentuk calon-calon pemimpin masa depan yang berkarakter. (fy)





Sepenggal kisah menyejarah KAMMI Solutif

19 01 2011

Editortial Progresif (14)- Alhamdulillahirobbil alamin. Dengan izin Allah SWT, akhirnya KAMMI Solutif 1431 H telah mengakhiri perjalanan menyejarahnya selama satu periode kepengurusan. Beberapa catatan penting dan beberapa prestasi – prestasi berhasil dicatatkan oleh segenap pengurus KAMMI Solutif 1431 H. Dan semoga prestasi dan catatan penting yang berhasil ditorehkan oleg pengurus KAMMI tersebut menjadi warisan agung yang bisa dilanjutkan oleh generasi pelanjut dari para muslim negarawan selanjutnya.

Beberapa catatan dan prestasi penting tersebut terbingkai rapi dalam catatan atau diary perjalanan dakwah ini. Diawali dari pembentukuan struktur PH Plus pada awal Januari, terdapat beberapa gagasan cemerlang dari para pengurus teras KAMMI. Kemudian berlanjut dengan Open Rekruitmen pengurus yang menghasilkan kader – kader militan KAMMI, yang untuk selanjutnya diawali-lah perjalanan KAMMI Solutif dalam Raker pada Maret 2010 di Masjid Istiqomah, Ungaran. Read the rest of this entry »








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.