Oleh : Abu Jundullah Rabbani
Restorasi, adalah satu kata yang akhir – akhir ini cukup familiar terdengar ditelinga kita, terutama setelah salah satu new comer Parpol memakai jargon itu. Tetapi bukan berarti dengan mengambil tema restorasi, saya menjiplak Partai yang berjargon sama, makna dari restorasi itu sendiri yang saya kira pas untuk dilakukan terhadap gerakan yang sudah tiga tahunan ini membersamai saya. Jika kita mengacu kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia, restorasi berarti pengembalian atau pemulihan terhadap keadaan semula atau berarti pemugaran. Jadi sebenarnya makna restorasi itu sendiri adalah perbaikan, sesuai dengan gerakan ini, adalah gerakan perubahan, ishlah wa taghyir. Kalau kemudian kita mengambil salah satu contoh restorasi yang bisa dikatakan berhasil merubah tatanan masyarakat adalah restorasi meiji di Jepang.
Seperti diketahui, sebelum 1853 Jepang betul-betul merupakan negara yang sangat tertutup dan diperintah dengan cara yang sangat feodalistik. Dorongan modernisasi Jepang berawal dari hadirnya angkatan laut Amerika dibawah pimpinan Laksamana Perry. Laksamana Perry minta pintu gerbang Jepang dibuka dan minta berunding dengan tujuan agar Jepang membuka diri kepada pihak asing, berdagang dan membolehkan kapal asing merapat di pelabuhan Jepang.
Mulai saat Itulah bangsa Jepang terbuka matanya bahwa ada kekuatan-kekuatan besar diluar mereka. Semangat Bushido para samurai dengan pedang-pedangnya ditantang untuk mampu melawan kekuatan Amerika, orang kulit putih, orang Barat (sekalipun orang Amerika itu datangnya dari Timur). Sejak saat itu mereka berpikir untuk menjadi sekurang-kurangnya sama kuatnya dengan orang asing.
Dimulailah proses reformasi dengan pendidikan sebagai mata tombak. Pendidikan menjadi hak dan kewajiban semua warga. Tetapi reformasi itu yang disebut restorasi, sejak itu restorasi Jepang itu disebut dengan Restorasi Meiji. Restorasi Jepang itu berjalan sangat cepat dan efisien tahun 1853. Menjelang akhir abad ke 19 Jepang sudah berhasil menjadi kekuatan militer dengan angkatan laut yang sangat tangguh sehingga dapat mengalahkan secara mutlak armada raksasa Rusia di Selat Tsushima, menyapu bersih kepulauan Sachalin, mengambil
Korea dan Semenanjung Liau-Tung dari Rusia, serta Port Arthur dan Dairen (Wells, 1951).
Pengaruh mendasar lainnya dari kehadiran bangsa Amerika di Jepang adalah perubahan Konstitusi Jepang yang dibuat atas supervisi Jenderal MacAthur, dan konstitusi itu masih berlaku hingga kini. Di bawah asuhan Jenderal MacArhur, Jepang tumbuh kembali menjadi negara ekonomi yang sangat tangguh, sehingga menjadi super power dalam bidang ekonomi hingga kini.
Yang menarik dari Restorasi Jepang adalah para aktor yang sangat gigih memperjuangkan reformasi itu berjumlah tidak lebih dari 100 orang muda yang cerdas dan berdedikasi tinggi. Titik berat dari proses restorasi itu adalah di bidang pendidikan. Banyak sekali pemuda Jepang dikirimkan ke luar negeri dan Jepang banyak mengambil sistem Jerman dalam segala proses kehidupannya. Sewaktu menjalankan Restorasi, Jepang sudah memiliki administrasi pemerintahan yang sangat rapi warisan dari rezim Tokugawa. Pada dasarnya kepribadian Jepang sangat dipengaruhi oleh semangat Bushido yang sangat berdisiplin tinggi dan menjunjung tinggi kode etik dan tata krama dalam kehidupan. Kesemuanya itu terus berlanjut sewaktu proses restorasi itu berjalan.
Salah satu alasan mengapa saya mengambil tema Restorasi KAMMI, lalu saya komparasikan dengan kisah meiji, adalah yang pertama karena saya begitu terpukau dengan kisah Meiji, dan yang kedua karena memang sudah saatnya KAMMI merestorasi gerakannya, baik dari konsep maupun kader- kader KAMMI yang didalamnya.
Momentum Musyawarah Komisariat, Musyawarah Daerah, Musyawarah Wilayah, ataupun Musyawarah Nasional yang diselenggarakan KAMMI di setiap akhir periode kepengurusan untuk membentuk struktur yang baru adalah hal yang substansi yang menjadi agenda rutin kepengurusan KAMMI ini dibentuk. Tetapi setelah diamati dengan lebih teliti, ternyata ‘akhir – akhir’ ini, keberadaan KAMMI sebagai sebuah pergerakan mahasiswa yang mengklaim dirinya adalah gerakan transformatif yang mampu mentransformasikan masyarakat dan memecahkan masalah sosial, sesuai dengan yang termaktub dalam kredo gerakan, ternyata belum memiliki dampak signifikan terhadap perubahan sosial yang dirasakan masyarakat. Padahal jika kita cermati bersama, KAMMI lahir adalah dari rahim rakyat, dan bersama rakyat kemudian menumbangkan rezim otoriter yang selama tiga dekade menjajah kemerdekaan rakyat Indonesia. Artinya, KAMMI dan rakyat harus menjadi satu kesatuan utuh dalam setiap agenda gerakannya, karena walaupun saat itu bentuk dari KAMMI hanyalah sekedar kesatuan aksi, tetapi yang sedang diperjuangkannya adalah aspirasi rakyat, jadi konsekuensinya KAMMI harus tetap bersama rakyat, kapanpun dan dimanapun.
Yang menjadi keresahan kita, atau lebih tepatnya kritik untuk gerakan yang sudah berdiri selama 13 tahun ini, ternyata dengan kondisi zaman yang serba baru, kita belum mampu menyesuaikan dengan zaman baru, sehingga seakan – akan gerakan ini terlihat seperti mati suri. Padahal jika kita mengacu kepada visi misi, karakteristik, dan ranah kerja gerakan KAMMI, semuanya sudah jelas bahwa gerakan ini menjadi gerakan perubahan yang menjadikan tatanan masyarakat baru yang madani. KAMMI adalah gerakan dakwah tauhid dengan segala poin yang ada didalamnya, bahwa kader – kader KAMMI adalah kader yang karakteristiknya ada dan termaktub dalam kredo gerakan, tetapi mengapa seakan – akan kita gagap, atau latah, dalam menyikapi zaman baru dengan semua hal yang baru, seakan – akan kita hanya terbuai dengan romantika masa lalu, padahal zaman kita saat ini sudah beda sama sekali dengan zaman dulu. Seharusnya ritme perjuangan dan tawaran yang kita sampaikan haruslah menyesuaikan zaman saat ini.
Restorasi dalam tubuh KAMMI, adalah berawal dari keresahan terhadap hal yang sama sekali belum tersentuh, yakni wilayah taktis dan amal garapan kita tidak menyentuh obyek sama sekali. Yang pertama sepertinya kita harus memaknai restorasi itu sebagai sebuah pilihan perjuangan yang tepat diantara opsi – opsi yang ada.
Karena saya berada di komisariat dengan kampus sebagai obyek dakwah, maka saya akan mencoba menelurkan gagasan restorasi KAMMI dimulai dari Komisariat. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa masalah yang terjadi adalah masalah konsistensi amal dan kemandegan fikrah-isasi kader. Itu baru disisi internalnya, lalu kalau kita menginjak eksternalnya adalah turunnya tingkat ketertarikan mahasiswa terhadap KAMMI, yang ternyata ini berefek besar terhadap kaderisasi KAMMI, menjadi perhatian juga untuk segera dicarikan solusinya. Tetapi saya tidak akan membicarakan masalah – masalah yang terjadi, karena hal itu justru akan melemahkan semangat gerakan kita. Harapannya beberapa ide restorasi ini sedikit menjadi ‘obat mujarab’ bagi perbaikan komisariat dan KAMMI secara umum. Dan kita sebut sebagai Restorasi Progresif KAMMI Unnes.
- Fokus fikrah-isasi kader. Ini menjadi hal urgen karena gerakan ini adalah gerakan intelektual, jadi masalah yang juga harus diseriusi adalah terkait fikrah kader. Yang menjadikan gerakan ini leading diantara gerakan lainnya adalah wacana – wacana yang melangit yang dimiliki kader – kadernya. Dan belajar dari Meiji, salah satu hal yang membuat restorasi meiji berhasil merubah tatanan masyarakat jepang adalah perhatian terhadap sisi pendidikan. Maka departemen Kaderisasi dan departemen Kajian Strategis harus fokus terhadap masalah ini, dengan Madrasah KAMMI maupun dengan lokus – lokus diskusi yang digarap oleh temen – temen Kajian Strategis.
- Optimalisasi Manhaj Tugas Baca. Ini juga yang juga menjadi perhatian serius kader KAMMI, yakni lemahnya budaya baca kader, sehingga ini mempunyai efek bola salju terhadap kapasitas kader KAMMI. Mau tidak mau, yang namanya aktivis pergerakan, harusnya memiliki referensi yang kuat lagi utuh dalam setiap argumen yang disampaikannya, sehingga Mantuba yang sudah dikonsep sedemikian bagusnya dalam buku prestasi haruslah menjadi perhatian bagi kader. Kesadaran ekspektasi kader untuk menikmati buku mantuba ini harus dimiliki setiap kader yang sadar akan pemenuhan kapasitas intelektualnya.
- Kontributif-proaktif. Setiap kader KAMMI harus memiliki ranah kotribusi yang maksimal sebagai bagian dari peran mengejawantahkan visi komprehensif gerakan ini. Dimanapun amanahnya, persoalan kontribusi ini selalu menjadi hal utama yang harus dilakukan. Konsekuensi logis dari trilogi model manusia muslim ideal menurut Anis Matta, yakni afiliasi, partisipasi, dan kontribusi. Dimana wilayah kontribusi adalah wilayah spesialisasi kepakaran kita, dan disitu pula nantinya kapasitas – kapasitas intelektual yang kita miliki dijadikan sarana untuk menjadikan solusi bagi problematika gerakan ini. Dan juga proaktif adalah peka terhadap kondisi yang ada, cermat melihat kondisi, dan pada akhirnya menjadi bagian dari solusi itu sendiri.
Saya kira tiga hal tersebut diatas, yang kemudian saya namakan dengan restorasi progresif KAMMI, bukan solusi utama, tetapi setidaknya menjadi bagian dari solusi – solusi ditengah problematika yang sedang ada dalam tubuh gerakan ini. Karena, bagi saya, KAMMI adalah satu dari sekian banyak gerakan yang saya kira saat ini masih memegang teguh prinsip idealitas ditengah lunturnya kemurnian dan kesucian gerakan. Dan bagi saya, menjadi bagian dari KAMMI adalah solusi itu sendiri.


Recent Comments