Menjadikan KAMMI Sebagai Komunitas Pembelajar

Foto: KFK Kompas. Bunday Shanty Di tengah kesibukkan aktivitas dakwah, kita harus meluangkan waktu khusus untuk berkontemplasi mengevaluasi hasil-hasil kerja dan merancang kembali target-target pencapaian dakwah esok hari. Adakah target tercapai, sudah berapa orang aktif menyukseskan dakwah ini, berapa banyak orang ter-sibghoh dengan beragam aktivitas kita. Dan satu hal yang perlu kita pertanyakan, adakah itu semua berefek pada peningkatan skill kita ataukah hal itu telah menjadi rutinitas kesibukan kerja yang berhujung pada kebingungan arah, karena ia tidak menemukan korelasi semua amal dakwah yang dilakukan organisasi. Dengan alasan MBO (Management By Objective) seolah organisasi ini bergerak sendiri-sendiri. Terlalu strukturalis, teknis dan mekanik. Ruh ukhuwah hilang terhempas profesionalitas yang kaku. Atau ’terlalu erat’ ikatan ’ukhuwah’ yang berdampak pada ketiadaan profesionalitas, tidak ada saling mengingatkan, yang penting bidangnya selesai dan yang lain bukan urusannya.
KAMMI sejak awal mendeklarasikan organisasi ini sebagai wadah perjuangan permanen yang bekerja untuk mencetak kader-kader berjiwa pemimpin dan negarawan. Ruh yang dibangun adalah perjuangan, maka seluruh sisi paradigma dan kinerjanya tidak terlepas dari perjuangan untuk mencerahkan masyarakat ini menjadi umat yang—dalam misi KAMMI disebut sebagai—Rabbani, madani, adil dan sejahtera. Pertanyaannya sudah sejauh mana kita sebagai kader KAMMI merancang diri untuk menjadi pemimpin yang tangguh di masa depan. Sudah sejauh mana kita merumuskan career plan (perencanaan diri) sepuluh atau lima belas tahun ke depan. Atau lebih realistis lagi, sudah sejauh mana kita mengagendakan pengembangan diri pada tahun, bulan, pekan, dan hari ini. Sejauh mana kita memperluas pergaulan, ke kalangan yang lebih tinggi kualitasnya dengan kita hari ini, dosen, intelektual muslim, organisasi Islam, negeri jiran, dll. Karena sesungguhnya pergaulan yang luas (bukan pergaulan bebas!) inilah yang akan mempercepat kedewasaan kita dan organisasi pun akan terbantu dengan jaringan yang kita miliki.
Pada kenyataannya gerakan mahasiswa adalah gerakan yang serba tanggung. Dia idealis ingin independen tapi pada saat yang sama masih ada ketergantungan pada orang tua. Hal ini tidak dapat dipungkiri, selain karena usia-usia mahasiswa masih disibukkan oleh pencarian jati diri, juga karena secara kapasitas belum memadai. Tapi di sinilah tantangannya bagi kader-kader KAMMI. KAMMI sesungguhnya memiliki keistimewaan (tamayyuz) dibanding dengan organisasi mahasiswa pada umumnya. Ia adalah gerakan mahasiswa Islam, ciri keislaman lebih menonjol, akhlak dikedepankan, pemikiran sistematis didahulukan dan bergerak sesuai perencanaan. Sebagai ruh baru di belantara dakwah ini, KAMMI menegaskan kemenangan Islam adalah ruh perjuangan KAMMI dan perbaikan adalah tradisi perjuangan KAMMI, maka sudah selayaknya kader-kader KAMMI dituntut untuk memiliki sikap mental mandiri. Dan, salah satu ciri sikap mental mandiri adalah menjadikan masa mudanya sebagai masa pembelajaran. Ya.. sekali lagi, masa pembelajaran, menjadi pribadi pembelajar yang sadar akan posisi dirinya termasuk kondisi ke-kini-an dan ke-di-sini-an.
Saya membayangkan semua kader KAMMI aktif di berbagai amal dakwah yang sudah dirumuskan KAMMI mereka memanfaatkan (intifa’) momentum itu sebagai peningkatan kualitas diri. Anggota Biasa satu, dua dan tiga memaksimalkan untuk sibuk memenuhi Indeks Jati Diri KAMMI-nya secara mandiri. Alumni fungsionarisnya merasakan mereka mendapatkan proses perubahan dan pembelajarannya saat bergabung di KAMMI. Seorang mahasiswa baru yang belum pandai berbahasa Inggris dan Arab menemukan komunitas pembelajar luar biasa di KAMMI, pandai berbicara dan menuangkan gagasan dalam bahasa internasional. Beberapa kader KAMMI diundang ke Jepang atau Malaysia untuk menjelaskan pola pengembangan generasi muda di Indonesia. Atau bahkan, jika perlu KAMMI dipercaya untuk berdiplomasi, berdialektika dan memperjuangkan kredibiltas rakyat Indonesia di depan bangsa-bangsa Barat itu.
Oleh karena itu sudah selayaknya KAMMI menjadi pusat Learning Organisation (organisasi pembelajaran) di bidang dakwah, akademik, kepemimpinan, sosial, dan politik. Saya yakin kader-kader KAMMI yang cerdas, energik dan pantang menyerah ini mampu memaksimalkan diri sebagai pembelajar sejati. Karena pada hakikinya mereka menghibahkan kehidupan 24 jamnya tidak terlepas dari komitmen mengembangkan dakwah.
304751_489366524424544_80867544_nTri Hartanto, S.S. Alumnus DM3 KAMMI Jogyakarta, Alumnus Training Pengkader Nasional KAMMI Pusat 2009, Ketua Departemen Kaderisasi KAMMI Wilayah Jawa Tengah 2012
About these ads

Tentang kammiunnes

KAMMI adalah salah satu organisasi elemen gerakan mahasiswa (EGM) ekstra kampus yang berideologi Islam.
Tulisan ini dipublikasikan di Aksi KAMMI, Berita, Informasi KAMMI dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s