Kiat Hidup Bersama Al – Qur’an

 Mas Rijalul ImamMUQADDIMAH

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, kepada keluarga juga para sahabatnya. wa ba’du.

Sudah menjadi tradisi di kalangan umat Islam ketika memasuki bulan Ramadhan dan musim-musim kebaikan lainnya menghabiskan sebagian banyak waktunya di hadapan mushaf untuk bersungguh-sungguh dalam membaca Al-Qur’an dan mengkhatamkannya berulang kali, bahkan saling berlomba-lomba untuk mengkhatamkan sebanyak-banyaknya.

Tidak diragukan lagi gejala seperti ini mengandung tujuan yang positif dari beberapa seginya, misalnya: perhatian kaum muslimin terhadap kitab suci mereka, kecintaan dan keterikatan mereka terhadapnya, akan tetapi sangat disayangkan sekali yang menjadi pusat perhatian mereka hanya terpaku pada huruf-huruf dan lafadz Al-Qur’an saja, tanpa memahami isi serta makna lafadz tersebut, yang bisa menjadikan seseorang istiqomah terhadap perintah-perintah Allah dan berpegang teguh di jalan-Nya yang lurus. Sebagaimana yang difirmankan Allah:

إن هذا القرأن يهدي للذي هو أقوم (الاسراء 9 )

Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus. (QS. Al-Isra: 9)

Namun ternyata kita sangat jauh dari apa yang dikehendaki oleh Al-Qur’an. Sebagai bukti nyata, tatkala seseorang di antara kita membaca ayat demi ayat, surat demi surat dan mengkhatamkan berkali-kali, akan tetapi bacaannya itu tidak meninggalkan jejak pada perilaku dan akhlaqnya.

Bahkan jika kamu menanyakan kepadanya apa yang kau renungkan dari ayat-ayat yang kau baca? Kamu tidak akan mendapatkan jawaban apa-apa darinya, yang penting baginya mengumpulkan pahala yang banyak sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah SAW:

“من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة, والحسنة بعشر أمثالها, لا أقول ألم حرف ولكن الف حرف, ولا م حرف, وميم حرف”

“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan dinilai dengan 10 semisalnya (10 kebaikan), saya tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (Hadits hasan, riwayat Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud)

JANGAN SEKEDAR MEMBACA

Sebenarnya bukan seperti itu yang diinginkan Rasulullah SAW, kalaulah Al-Qur’an hanya berkaitan dengan banyaknya pahala yang akan kita dapatkan saat membacanya, maka yang lebih baik kita mengalihkannya kepada amalan lain yang akan memberi kita pahala yang lebih besar lagi. Sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah:

“من د خل السوق فقال : لا إ له إلا الله وحده لا شريك له, له الملك وله الحمد يحى و يميت, وهو على كل شيء قد ير, كتب له ألف ألف حسنة , ومحا عنه ألف ألف سيئة, ورفع له ألف ألف درجة, وبنى له بيتا فى الجنة”

“Barang siapa masuk ke sebuah pasar kemudian mengucapkan kalimat laa ilaaha illa-llah wahdahu laa syariika lahu, lahulmulku wa lahulhamdu yuhyi wa yumitu, wa huwa hayyun laa yamuutu bi yadihil khoir wa huwa ‘ala kulli syaiin qodiir. (Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi, bagi-Nya lah segala puji yang menghidupkan dan mematikan. Dan Dia itu hidup tidak akan mati, digenggaman-Nya lah semua kebaikan dan Dia terhadap segala sesuatu Maha Kuasa), dicatat baginya beribu-ribu kebaikan dan dihapus darinya beribu-ribu kesalahan dan dia akan diangkat beribu-ribu derajat, dan akan dibangun untuknya rumah di surga” (Shahih Jami’ Shagiir no: 231)

Bukan berarti kita meremehkan pahala tilawah Al-Qur’an, akan tetapi kita ingin meluruskan kembali persepsi terhadap cara berinteraksi yang salah dengan Al-Qur’an. Bahwa sebenarnya nilai dan barakah Al-Qur’an terdapat pada makna yang dikandung, adapun lafadz merupakan sarana untuk mengetahui maknanya. Oleh karena itu Rasulullah SAW mengarahkan dan membangkitkan semangat membaca Al-Qur’an dengan diiming-imingi oleh pahala yang besar. Sebagai perumpamaan: seorang ayah yang memberi uang saku untuk anaknya agar dia tekun belajar dalam waktu yang berjam-jam, tentu saja dia tidak bermaksud agar anaknya hanya duduk di kursi dan membolak-balik halaman buku tanpa mendapatkan pemahaman, akan tetapi tujuan si bapak tadi adalah memotivasi agar anaknya terus belajar dengan serius, supaya dia menjadi orang sukses.

Bila kita memperhatikan tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an dan kita hubungkan antara perumpamaan tadi dengan pahala besar yang diberikan Allah Yang Maha Bijaksana atas bacaan Al-Qur’an tersebut, maka akan kita dapatkan bahwa tujuan dari pahala-pahala tersebut merupakan motivasi bagi kaum muslimin agar selalu dekat dengan Al-Qur’an supaya kita memperoleh petunjuk dan hidayah melalui Al-Qur’an, dan mendapatkan kesembuhan jiwa lewat obatnya…adapun kita mendekat padanya tanpa tujuan yang jelas kecuali hanya ingin mendapatkan pahala bacaan saja tanpa memperhatikan makna yang dikandungnya, tentu jelas kita sangat merugi dengan interaksi yang kaku ini dan Al-Qur’an tidak akan menjadi hidayah bagi kita.

SATU-SATUNYA JALAN: TADABBUR

Sebenarnya nash-nash Al-Qur’an sangat jelas akan pentingnya bertadabbur ketika membaca atau mendengarkan Al-Qur’an, supaya tadabbur itu dijadikan sebagai sarana untuk memahami perintah Allah dan mempengaruhi diri kita untuk kemudian diamalkan. Sebagaimana firman Allah:

كتاب انزلناه اليك مبارك ليدّبّروا اياته وليتذكّروا أولوا الباب (ص: 29)

“kitab ini kami turunkan kepadamu penuh dengan barakah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran”.(Shaad 29)

Dan Allah juga berfirman:

افلا يتدبّرون القرأن أم على قلوب اقفالها(محمد 23 )

“maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad:24)

Dan untuk memahami pesan-pesan Al-Qur’an harus membiasakan diri untuk membacanya dengan penuh tadabbur, oleh karena itu Rasulullah menasehati Abdullah bin Amr bin Ash -radiyallahu anhuma- supaya tidak mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari, sebagaimana sabda Rasul SAW:

( لا يفقهه من يقرأه فى اقل من ثلاث )

“tidak akan paham seseorang yang membacanya (Al-Qur’an) kurang dari tiga hari” (shahih jami’ shagir no: 1157) .

Bukankah kita selalu bersungguh-sungguh untuk memahami setiap perkataan yang kita baca atau kita dengar? … tapi mengapa kita tidak praktekkan kaidah ini terhadap Al-Qur’an?

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sudah menjadi ma’lum bahwa setiap perkataan itu, tujuannya untuk bisa dipahami, bukan untuk sekedar mengetahui lafadz-lafadznya saja, maka Al-Qur’an lebih utama (untuk dipahami) dari semua itu.” Hal ini juga dikuatkan oleh ustadz Hasan Al-Hudhaibi, “Yang menjadi patokan seseorang dalam tilawah Al-Qur’an bukanlah seberapa banyak ia membacanya, namun sejauh mana ia bisa mengambil manfaat dari hasil bacaannya. Al-Qur’an tidak akan turun sebagai barokah kepada Nabi SAW dengan lafadz-lafadz yang tidak bermakna. Sesungguhnya barokah Al-Qur’an itu saat kita mengamalkannya, dan saat kita mengambilnya sebagai manhaj hidup yang menerangi jalan orang-orang yang menempuhnya, maka ketika kita membaca Al-Quran haruslah diniatkan untuk merealisasikan kandungan makna tersebut, dan itu hanya bisa dilakukan dengan mentadabburi ayat-ayatnya, memahami dan mengamalkannya.”

TADABBUR, SARANA BUKAN TUJUAN

Tentu seseorang harus menyertai tilawah dengan pemahaman dan tadabbur, Imam Al-Qurtuby mengatakan dalam tafsirnya tentang ayat:

افلا يتدبّرون القرأن لو كان من عند غير الله لوجدوا فيه إختلافا كثيرا (النساء 82 )

“Apakah kamu tidak mentadabburi al-Qur’an kalaulah ia bukan dari sisi Allah tentu mereka mendapat pertentangan yang banyak didalamnya.” (QS. An-Nisa’: 82)

ia mengatakan: “Ayat ini menunjukan atas (hukum) wajibnya mentadabburi Al-Qur’an untuk mengetahui maknanya.”

Maka tadabbur Al-Qur’an sekalipun diwajibkan atas para pembacanya atau atas pendengarnya, tetapi tadabbur itu sendiri bukanlah merupakan tujuan utama, melainkan ia adalah wasilah untuk membangkitkan kembali mu’jizat agung yang dikandungnya dan merealisasikan mu’jizat itu pada jiwa-jiwa yang menerimanya.

MU’JIZAT YANG TERAGUNG

Kita tahu semuanya bahwa Al-Qur’an yang ada di tangan kita merupakan mu’jizat yang besar dan agung yang datang dari Allah, lebih agung dari tongkatnya Nabi Musa AS, dan dari untanya Nabi Shaleh AS, dan dari mu’jizat-mu’jizat lainnya, lalu apa rahasia yang menjadikannya lebih tinggi dari mu’jizat-mu’jizat sebelumnya?

Sebagian menjawab bahwa mu’jizat Al-Qur’an tersembunyi dalam ushlub dan gaya bahasanya, tantangan terhadap seluruh umat manusia yang tak mampu membuat yang semisal dengannya, dan bahwa ia cocok untuk setiap zaman, tempat dan seterusnya.

Semua jawaban ini benar dari beberapa segi kemu’jizatan Al-Qur’an, akan tetapi ada rahasia kemu’jizatannya yang lebih besar yaitu dalam keajaibannya untuk mengubah…mengubah manusia macam apapun, dan dari lingkungan yang bagaimanpun mereka, mengubah mereka menjadi manusia baru yang lebih ‘alim (berpengetahuan luas), ‘abid (tekun beribadah), dalam segala perkara dan kondisinya, sampai membentuk kepribadian yang digambarkan Al-Qur’an:

قل إنّ صلا تى و نسكى و محياى و مماتى لله رب العالمين (الانعام 126 )

“katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Rabb semesta alam”(Al-An’am162)

DAN KEAJAIBAN ITU TERJADI …

Perubahan yang terjadi lewat Al-Qur’an bermula dari masuknya cahaya Al-Qur’an ke hati, maka setiap kali cahaya tersebut menerangi suatu bagian dari bagian-bagian hati, kaburlah kegelapan yang dikarenakan kemaksiatan, kelalaian dan mengikuti hawa nafsu.

Sedikit demi sedikit bertambahlah cahaya ke dalam hati, dan merangkaklah kehidupan hati di setiap sisinya, memulai hidup baru yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Allah berfirman:

أو من كان ميتا فأحييناه وجعلنا له نورا يمشى به فى الناس كمن مثله فى الظلمات ليس بخارج منها

(الانعام 122 )

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian ia kami hidupkan dan kami berikan ia cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan dengan orang yang keadaannya berada dalam keadaan gelap gulita yang sekali-sekali tidak dapat keluar dari padanya?

{Al-An’am 122}

Al-Qur’an merupakan Ruh yang menyebar dalam seluruh penjuru hati maka ia menghidupkan akan setiap hati yang mati. Allah SWT berfirman:

و كذالك أوحينا اليك روحا من امرنا ما كنت تدرى ما الكتاب و لا الأيمان ولكن جعلناه نورا نهدى من نشاء من عبادنا(الشورى 52 )

“Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu Ruh (Al-Qur’an) dengan perintah kami . Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Alkitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu ,tetapi kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami tunjuki siapa yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami”.(As-Syuro 52)

Ketika Ruh tersebut menancap dalam hati, dan setiap penjurunya dipenuhi dengan cahaya iman, maka ia mampu mengusir hawa nafsu dan rasa cinta terhadap dunia kemudian akan mempengaruhi prilaku seorang hamba dan tujuan hidupnya.

Inilah yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya ketika ia ditanya tentang makna ‘insyirah shadr’ (keterbukaan dada) dalam firman-Nya:

أفمن شرح له صدره للاسلام فهو علي نور من ربّه (الزمر 22 )

“maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk menerima agama islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?

{Az-Zumar 22},

Nabi SAW menjelaskan:

(إذا ذخل نور القلب إنشرح و إنفتح) قلنا: يا ر سول الله و ما علامة ذالك ؟ قال: (الإنابة الى دار الخلود , والتجافى عن دار الغرور , والإستعداد للموت قبل نزوله)

“Apabila cahaya iman masuk terbukalah hatinya” (untuk menerima kebenaran), kami bertanya : “Hai Rasulullah apa ciri-cirinya?” Rasulullah SAW bersabda: “Kerinduan kepada kampung keabadian, merasa jauh dari dunia yang menipu, bersiap-siap untuk menghadapi kematian sebelum ia datang.”

KEHEBATAN MU’JIZAT ALQUR’AN

Allah berfirman:

ولو أن قرأنا سيرت به الجبال أو قطعت به الأرض أو كلم به موتى بل لله الأمر جميعا(الرعد 31 )

“Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung gunung dapat digoncangkan, atau bumi jadi terbelah, atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara (tentu Al-Qur’an itulah dia){ArRa’ad 31}

Sesungguhnya Al-Qur’an memiliki pengaruh yang sangat kuat yang tak mungkin kita bayangkan, Allah mengumpamakan kepada kita dengan suatu amtsal:

لو انزلنا هذا القرأن على جبل لرأيته خاشعا متصدعا من خشية الله وتلك الأمثال نضربها للناس لعلهم يتفكرون

(الحشر 21 )

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. [Al-Hasyr21]

Gunung—sebagaimana yang dijelaskan Imam Al-Qurtuby—apabila Al-Qur’an ini diwahyukan kepadanya dengan susunan dan gaya bahasa yang indah yang mengandung pelajaran-pelajaran berharga, maka kamu akan melihat gunung yang keras dan kokoh itu pecah dan hancur berkeping-keping karena rasa takut kepada Allah”. Dalam amtsal ini kita diperintahkan untuk merenungkan kekuatan pengaruh yang dimiliki oleh Al-Qur’an agar menjadi hujjah bagi semua manusia, dan mematahkan dalih orang-orang yang beralasan bahwa mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mentadabburi Al-Qur’an.

BAHKAN JIN PUN BERIMAN

Di antara bukti kemu’jizatan Al-Qur’an, dan kekuatannya yang dahsyat dalam mempengaruhi, telah terjadi dengan sekelompok jin ketika ia mendengarkan ayat Al-Qur’an. Allah berfirman:

و إذ صرفنا الييك نفر من الجن يستمعون القرأن فلما حضروه قالو أنصتوا فلما قضى ولوا الى قومهم منذرين قالو يا قومنا انّا سمعنا كتابا أنزل من بعد موسى مصدقا لما بين يديه يهدى الى طريق المستقيم يا قومنا أجيبوا داعيا الله و أمنوا به يغفر لكم من ذنوبكم و يجركم من عذاب أليم ومن لا يجب داعيا الله فليس بمعجز فى الأرض و ليس له من دونه أولياء أولئك فى ضلال مبين ٍٍِ[الأحقاف 29 -32 ]

“Dan ingatlah ketika kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an , maka tatkala mereka mengghadiri pembacaannya lalu mereka berkata: “diamlah kamu untuk mendengarkannya”. Ketika pembacaannya telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk memberi peringatan) mereka berkata : Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami , terimalah (seruan orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepadanya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari adzab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan ) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari adzab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.

(Al-Ahqaaf : 29-32)

BUKTI NYATA YANG TAK TERLUPAKAN

Al-Qur’an memiliki pengaruh yang luar biasa pada setiap jiwa yang menyambutnya dan yang selalu berinteraksi dengan sebenar-benarnya dan menjadikannya sebagai petunjuk dan obat, maka terjadilah perubahan yang besar-besaran dalam kepribadiannya, sebuah kehidupan dengan rancangan dan bentuk baru yang lebih dicintai dan diridhai oleh Allah SWT. Jika kamu ragu akan hal ini mari kita lihat apa yang terjadi pada sahabat-sahabat Rasulullah SAW—semoga Allah meridhai mereka—orang-orang yang berada dalam kesesatan dan kejahiliyyahan yang bukan main sebelum mereka masuk Islam, dalam kondisi yang demikian mereka masuk ke dalam “proyek Al-Qur’an” kemudian keluar sebagai manusia-manusia baru yang menjadi kebanggaan umat manusia sampai detik ini.

Ini merupakan sesuatu yang menakjubkan sebagai bukti bagi kemampuan kitab ini untuk mengubah apa yang ada dalam jiwa seseorang sampai ke akarnya. Kalau bukan demikian, siapa yang percaya bahwa sebuah umat yang hidup di tengah gurun pasir, tak beralas kaki, bertelanjang dada, miskin, tak dicatat dalam sejarah, yang dianggap remeh oleh kekuatan-kekuatan adidaya saat itu, ketika itu datanglah Al-Qur’an mengubah dan membangun kembali kepribadian mereka dengan rancangan, bentuk, dan kehidupan yang benar-benar baru. Dan mengangkat cita dan semangat putra-putra umat itu ke langit. Dan mengikatkan hati-hati mereka kepada Allah agar Dia menjadi satu-satunya tujuan. Semua ini terjadi dalam waktu yang begitu singkat. Hanya dalam hitungan tahun, kafilah ini berubah dengan sangat dratis.

Maka apakah yang terjadi setelah itu?

Janji Allah menjadi sesuatu yang nyata, sebagaimana yang dijanjikannya terhadap hamba-hamba-Nya, ketika mereka telah menunaikan kewajiban untuk memperbaiki diri sendiri, Allah berfirman:

ان الله لا يغير ما بقوم حتى يغير ما بأنفسهم[الرعد 11 ]

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri.”(Ar-Ra’ad : 11)

Dalam hitungan tahun, muncullah sebuah kekuatan baru dari gersangnya padang pasir untuk menghancurkan dinasti-dinasti lalim. Berbaliklah timbangan kekuatan, kemudian… kepemimpinan umat manusia beralih ke tangan mereka.

ومن أوفى بعهده منالله [التوبه 111 ]

“maka siapakah yang lebih menepati janji (selain) Allah?” [At-Taubah111]

KAPAN PERUBAHAN ITU TERJADI?

Yang membuat Al-Qur’an mampu mengubah para sahabat Rasul secara drastis, dikarenakan interaksi yang baik antara Sahabat ra dengan Al-Qur’an, setelah mereka mengetahui betapa berharganya Al-Qur’an dan mereka betul-betul memahami untuk apa Al-Qur’an diturunkan. Dan menjadikan Rasulullah SAW sebagai guru sekaligus qudwah bagi mereka. Sungguh Rasulullah SAW telah menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dengan prilakunya dan men-shibghah kehidupannya dengan Al-Qur’an. Seakan-akan ia Al-Qur’an yang berjalan di muka bumi, membenci apa yang dibenci oleh Al-Qur’an dan ridha terhadap apa yang diridhai Al-Qur’an.

Rasulullah SAW membaca Al-Qur’an dengan perlahan tidak tergesa-gesa, ia melantunkan dengan indah sebuah surat dalam Al-Qur’an sampai-sampai bacaannya lebih panjang dari surat itu sendiri. Pernah Rasulullah qiyamullail sepanjang malam dengan mengulang-ulangi satu ayat dalam shalatnya yang berbunyi:

إن تعذ ّبهم فأنهم عباد ك و إن تغفر لهم فإنك أنت ألعزيز الحكيم [المائدة 117 ]

“Jika Engkau mengadzab mereka maka sesungguhnya mereka adalah hamba-Mu dan jika Engkau mengampuni mereka maka sesungguhnya Engkau adalah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(Al-Maidah118)

Bahkan kamu akan terdecak kagum terhadap pengaruh Al-Qur’an yang sangat kuat atas diri Rasulullah SAW ketika ia memberitakan kepada kita:

شيّبتنى هود وأخواتها قبل المشيب

“surat Hud dan semisalnya (Al-Haaqoh, Al-Ma’arij, At-Takwir,Al-Qariah ) telah membuat rambutku beruban sebelum waktunya”

Adapun pengaruh Al-Qur’an atas jiwa para sahabat RA maka sebaik-baik bukti adalah ketika kehidupan mereka berganti dan tujuan berubah arah. Jika kamu ingin mengetahui kehidupan para sahabat dengan Al-Qur’an dan betapa kuatnya pengaruh Al-Qur’an terhadap mereka, maka lihatlah Abbad bin Bisyr yang saling bergantian berpatroli malam bersama Ammar bin Yasir dalam peperangan Dzaturriqo’, ia meminta Ammar dengan setengah memaksa, untuk tidur di awal malam agar ia dapat berpatroli, ketika ia melihat tempat tersebut aman, ia pun sholat, datanglah salah seorang musyrikin memanahnya, ia pun mencabutnya dan meneruskan sholatnya, kemudian musyrik tersebut melemparkan panah yang kedua, ia cabut lagi dan menyempurnakan sholatnya, datanglah panah untuk ketiga kalinya maka ia cabut dan menghentikan tilawah kemudian ia ruku’ dan membangunkan Ammar sembari sujud, maka ketika Ammar menanyakan kenapa ia tidak membangunkan sejak terlemparnya panah yang pertama kali, ia pun menjawab: “Sesungguhnya aku ketika itu sedang membaca satu surat dan aku tidak suka menghentikannya sampai aku menyempurnakannya, ketika terus menerus orang itu memanahku aku pun ruku’ dan membangunkanmu, Demi Allah, kalau bukan karena takut menyia-nyiakan perintah Rasulullah SAW untuk menjaga perbatasan, tentu aku sudah terbunuh sebelum aku menghentikan bacaan atau menyelesaikannya.”

BARAKAH AL-QUR’AN

Jadi sesungguhnya nilai keagungan Al-Qur’an itu terdapat pada makna-maknanya, dan kemampuannya untuk mengadakan perubahan bagi pembacanya, merancang kembali cara berfikir akalnya, membangkitkan ruh dalam hatinya, mendidik jiwanya agar tumbuh menjadi seorang yang alim kepada Allah, beribadah kepadanya dengan ikhlas dan dengan bashiroh mata hatinya. Hal ini tidak akan benar-benar terjadi dengan sekedar membaca saja, walaupun ia mengkhatamkannya beribu kali.

Hal ini juga dikuatkan oleh para sahabat—radhiyallahu anhum—dikatakan kepada Sayyidah Aisyah ra: “Sesungguhnya di antara orang-orang ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an dua atau tiga kali dalam satu malam”, ia pun berkata: “Mereka membacanya tapi sebenarnya mereka tidak membaca, sungguh Rasulullah SAW sholat tahajjud semalam penuh, beliau membaca surat Al-Baqarah disambung surat Ali Imron dan surat An-Nisa tidak lewat satu ayat pun tentang kabar gembira kecuali ia berdo’a pada Allah memintanya, dan tidak lewat satu ayat pun tentang ancaman kecuali ia berdoa agar dijauhkan darinya”.

Dan dari Abi Jasroh ia berkata, aku berkata kepada Ibnu Abbas, “Sesungguhnya aku membaca Al-Qur’an dengan cepat dan aku mengkhatamkannya dalam tiga hari”, Ibnu Abbas pun berkata: “Sungguh, membaca surah Al-Baqarah dalam satu malam kemudian aku mentadabburinya dan aku tartilkan bacaannya, lebih aku sukai daripada aku membaca seperti yang kamu katakana.”

Dari wasiat Ibnu Mas’ud adalah, “Janganlah kau membaca Al-Qur’an secepat kau membaca syi’ir, atau seperti buah kurma yang berguguran dari tangkainya, berhenti dan renungkanlah keajaiban-keajaibannya, gerakkanlah hatimu dengannya dan janganlah menjadikan akhir surat sebagai pusat perhatianmu.”

Pernyataan ini juga dikuatkan oleh Imam Al-Ajry dalam bukunya Akhlaq Hamalatil-Qur’an (Akhlaq Penghafal Al-Qur’an): “Sedikit mempelajari Al-Qur’an kemudian merenungkannya dan mentadabburinya lebih aku sukai daripada aku membaca banyak tanpa mentadabburi dan mentafakuri, dan ayat-ayat Al-Qur’an dengan jelas menunjukan demikian, begitu juga sunnah dan perkataan para pemimpin umat Islam”. Imam Mujahid ditanya antara seseorang yang membaca Al Baqarah dan Ali Imron dengan seseorang yang membaca Al Baqarah saja, dengan bacaan yang sama panjangnya, ruku’ mereka sama, dan sujud mereka sama, mana antara mereka yang lebih utama? Imam Mujahid pun berkata: “(yang lebih utama) yang membaca Al Baqoroh saja, kemudian ia membaca:

وقرأنا فرقناه لتقرأه على الناس على مكث [الإسراء 106 ]

dan alqur’an itu kami turunkan secara berangsur-angsur agar kamu membacakannya secara perlahan-lahan kepada manusia .{al-isro106}

AL-QUR’AN DI ZAMAN INI

Wahai saudaraku…

Kau sudah mengetahui bahwa Al-Qur’an yang ada di tangan kita hari ini sama persis dengan Al-Qur’an yang dibaca oleh para sahabat. Sungguh Al-Qur’an telah menjadikan mereka sebuah generasi yang istimewa. Namun adakah perubahan itu terjadi pada diri kita? Mengapa Al-Qur’an tidak dapat mengulang kembali apa yang dilakukannya pada contoh-contoh di atas? Atau justru sudah tidak ada lagi orang-orang seperti mereka?

Sepertinya hal itulah yang terjadi, karena mu’jizat Al-Qur’an kekal abadi sampai hari kiamat, kalau begitu maka kesalahan ada pada diri kita. Di zaman ini kita dapat menemukan Al-Qur’an di setiap rumah seorang muslim, kita dapat mendengarkan siaran-siaran yang berisi tentang kajian Al-Qur’an dan keislaman di berbagai chanel televisi dan radio, saat ini terdapat puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang yang hafal Al-Qur’an, yang belum pernah terjadi pada generasi pertama umat ini (generasi sahabat), namun mengapa umat ini tidak mendapatkan apa yang di dapatkan para pendahulunya, padahal demikian besar perhatian kita terhadap Al-Qur’an? Mengapa?

Karena kita tidak memenuhi syarat-syarat yang kita butuhkan agar Al-Qur’an menancapkan mu’jizatnya pada diri kita, dan agar ia mengubah diri kita.

Perhatian kita terhadap Al-Qur’an hanya sebatas perhatian terhadap lafadz-lafadznya saja, kata “mengajarkan Al-Qur’an” disempitkan maknanya dengan mengajarkan huruf-huruf dan cara pengucapan yang benar tanpa mengajarkan kandungannya.

Dan yang menjadi pendorong utama dalam membacanya disebabkan ingin memperoleh pahala yang banyak tanpa memperhatikan makna-makna di balik ayat-ayat itu. Makna-makna yang jika seorang merenungkannya akan membuatnya merasa lega dari kepenatan dunia saat ia membaca Al-Qur’an, seakan-akan ia terkagetkan saat bacaannya sampai pada akhir surat yang ia baca dan bersemangat untuk memulai surat lainnya, dan ia pun memulainya dengan rasa lapang tanpa ganjalan dalam hatinya. Bahkan, betapa anehnya diri kita saat merasa begitu senang melihat betapa banyak kita membaca tanpa mengetahui kandungannya.

Bahkan sudah menjadi kebiasaan kita, mencari siaran-siaran Al-Qur’an kemudian membiarkan qori’ melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dan meninggalkannya bersama tembok, sedangkan kita disibukan kembali oleh pekerjaan kita.

AKIBAT KELALAIAN KITA TERHADAP AL-QUR’AN

Cara berinteraksi yang salah dengan Al-Qur’an menyebabkan kita tidak mampu memetik manfaat yang sebenarnya dari Al-Qur’an, maka apa akibat yang akan terjadi?

Saat kita tidak mampu menggapai cahaya Al-Qur’an, maka kemu’jizatan Al-Qur’an pun akan berhenti—bahkan sekarang nyaris berhenti. Mu’jizat berupa perubahan yang nyata bagi jiwa-jiwa manusia, dikarenakan semakin curamnya jurang pemisah antara kewajiban yang harus kita lakukan dan kelalaian diri kita, antara ucapan dan perbuatan, saat itu berubah pula tujuan hidup kita, dan bertambahlah kecintaan dan ketergantungan kita terhadap dunia. Maka berlakulah sunnatullah yang terjadi atas umat-umat sebelum kita.

ذالك بأنالله لم يك مغيرا نعمة انعمها على قوم حتى يغيرو ما بأنفسهم و أن الله سميع عليم [الأنفال3 ]

Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni’mat yang telah dianugerahkannya kepada sesuatu kaum , hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri ,dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ( Al-Anfal 53)

Dan terjadilah apa yang diramalkan oleh Rasulullah saw, dalam suatu haditsnya:

(يوشك أن تداعى عليكم كما تداعى الأكلة إلى قسعتها) فقال قائل: ومن قلة نحن يومئذ؟ قال:(بل أنتم يومئذ كثير, ولكنكم غثاء كغثاء السيل , لينزعن الله من صدور عدوكم المهانة منكم و ليقدفن الله فى قلوبكم الوهن)

فقال قائل: يا رسول الله و مالوهن؟ قال:(حب الدنيا و كراهية الموت)

“Kalian akan dikerubuti oleh berbagai golongan sebagaimana makanan dikerubuti oleh orang-orang yang kelaparan, salah seorang di antara sahabat bertanya, “Apakah waktu itu kita sedikit wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Bahkan jumlah kalian banyak, tapi kalian bagai buih di lautan, karena Allah telah mencabut rasa takut dari hati musuh-musuh kalian dan menanamkan pada hati kalian penyakit al-wahn.” “Wahai Rasulullah apa itu al-wahn?” “Cinta dunia dan takut akan kematian.”

KEMBALI KEPADA AL-QUR’AN

Dari sini kita telah mengetahui dengan jelas. Sudah datang saatnya untuk kembali kepada Al-Qur’an maka sambutlah jamuannya dan arahkanlah wajah kita padanya, tinggalkanlah kesibukan diri kita untuknya.

Sekarang saatnya untuk memulai perubahan baru dalam diri kita agar terwujud janji Allah, sebagaimana Allah janjikan dalam Al-Qur’an:

إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم [الرعد 11 ]

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaaan yang ada pada diri mereka sendiri (Ar-Ra’ad 11)

Ketahuilah bahwa tidak mungkin memulai perubahan selain melewati pintu Al-Qur’an dan permulaan selain Al-Qur’an tidak akan membuahkan hasil yang kita inginkan. Kenapa tidak, karena Al-Qur’an adalah obat yang diturunkan Allah untuk mengobati penyakit-penyakit yang ada dalam diri manusia dan mengembalikan kesehatannya dalam hatinya. Allah swt berfirman:

يا أيها الناس قد جاءتكم موعظة من ربكم وشفاء لما فى الصدور و هدى و رحمة للمؤمنين [يونس 57]

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang beriman.(yunus 57)

Bagaimana mengambil manfaat dari Al-Qur’an?

Tidak ragu lagi, barangsiapa yang meyakini bahwa Al-Qur’an itu merupakan perkataan Allah yang ditujukan untuk dirinya, yang setiap lembarannya mengandung kunci-kunci keselamatan dunia dan akhirat, ia dapat mengubah dirinya dalam keadaan yang bagaimana pun dengan izin Allah swt. dan tidak ragu lagi, ia tidak memerlukan seseorang yang menunjukan sarana-sarana untuk membantunya mengambil manfaat dari Al-Qur’an karena ia dengan sendirinya telah siap untuk menerima arahan-arahan dari Al-Qur’an yang akan mengubah dirinya.

Tetapi jika kita merasa begitu sulit pada permulaannya untuk melakukan hal yang demikian, dikarenakan kebiasaan kita berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan cara yang salah menjadi sekat pembatas antara kita dan Al-Qur’an, yang senantiasa menghalangi kita mengambil manfaat yang sebenarnya dari Al-Qur’an. Apabila demikian maka untuk kembali kepada Al-Qur’an kita membutuhkan sarana-sarana yang membantu dan kiat-kiat praktis yang akan membantu kita untuk memalingkan wajah kepada Al-Qur’an, menerima jamuan pestanya, masuk ke alam dan proyek Al-Qur’an beserta tahapannya.

Sarana-sarana yang penting untuk membantu merealisasikan hal itu, di antaranya:

1. Menyibukan diri dengan Al-Qur’an.

2. Menyiapkan kondisi yang cocok

3. Membaca secara perlahan

4. Teliti dalam membaca

5. Merespon ayat-ayat yang kita baca.

6. Menjadikan makna sebagai tujuan.

7. Mengulang-ulangi ayat-ayat yang menyentuh hati.

Pertama, menyibukan diri dengan Al-Qur’an.

Artinya, menjadikannya sebagai satu-satunya yang menyibukkan kita, pusat perhatian, dan prioritas utama kita, dan untuk menjadikannya seperti itu maka harus dengan membiasakan untuk membacanya setiap hari walau dalam kondisi yang bagaimana pun. Dan banyak meluangkan waktu untuk Al-Qur’an.

Dikarenakan perubahan yang dilakukan Al-Qur’an adalah perubahan yang lambat, tenang dan bertahap maka untuk dapat memetik hasilnya diperlukan kontinuitas dalam berinteraksi dengannya, dan tidak membiarkan satu hari pun terlewati tanpa membacanya.

Ketahuilah, sebanyak kita memberikan waktu untuk Al-Qur’an maka sebanyak itu pula Al-Qur’an memberikan cahayanya kepada kita. Barangsiapa yang mampu berinteraksi dengannya berulang kali dalam satu hari maka ia telah meraih tongkat kemenangan.

Kedua, menyiapkan kondisi yang cocok.

Supaya Al-Qur’an melakukan perubahan pada diri kita maka kita harus menyiapkan kondisi yang tepat untuk menyambutnya, di antaranya mencari tempat sepi yang jauh dari kebisingan sebagai tempat kita bertemu dengannya. Tempat yang tenang akan membantu kita untuk lebih teliti dalam membaca, memahami dengan baik, dan cepat untuk merespon bacaan, dan juga dibolehkan untuk kita mengekpresikan perasaan-perasaan kita ketika kita merasakan gejolak-gejolak jiwa dengan tangisan atau do’a.

Di samping itu, kita juga harus menentukan agar pertemuan kita dengan Al-Qur’an dilakukan pada waktu-waktu produktif bukan pada waktu lelah, mengantuk dan sebagainya. Dianjurkan untuk wudhu dan bersiwak terlebih dahulu.

Ketiga, membaca secara perlahan.

Ketika kita membaca Al-Qur’an maka bacalah ia secara perlahan, tenang, dan tidak tergesa-gesa. Sikap ini menjaga kita dalam pengucapan kata yang benar dan agar dapat melantunkan ayat-ayat Allah SWT dengan indah. Sesuai dengan perintah Allah swt. yang berfirman:

و رتّل القرأن ترتيلا [المزمل 4]

Dan bacalah AlQur’an itu dengan perlahan-lahan.(Al Muzzammil 4)

Janganlah perhatian kita terpusat pada akhir surat yang ia baca. Tidaklah dianjurkan bagi kita untuk menamatkan Al-Qur’an lebih dari satu kali dalam satu bulan, misalnya dalam bulan Ramadhan, yang justru menyebabkan ia tergesa-gesa dalam membacanya. Bukankah sudah berkali-kali kita menamatkan Al-Qur’an dalam bulan-bulan Ramadhan sebelumnya, namun apa yang kita dapatkan? Adakah perubahan pada diri kita? Marilah kita saling berlomba untuk memetik buah-buah keimanan yang terkandung dalam Al-Qur’an, bukan dalam seberapa banyak kita habiskan lembaran-lembaran Al-Qur’an.

Keempat, teliti dalam membaca.

Bacalah Al-Qur’an sebagaimana kita membaca buku lain, jika kita membaca sebuah buku atau majalah atau koran biasanya kita berusaha memahami apa yang kita baca, dan apabila timbul rasa jenuh kita akan kembali membolak-balik lembaran yang sudah kita baca dan mengulangi beberapa makna yang tidak kita mengerti, yang demikian itu disebabkan karena kita ingin memahami apa isi bacaan tersebut.

Seperti itulah seharusnya kita membaca Al-Qur’an, kita membacanya dengan pikiran yang jernih. Apabila sewaktu-waktu merasa bosan, kita mengulang-ulang kembali ayat-ayat yang terekam dalam pikiran kita.

Pertama kali membacanya kita mungkin akan merasa sulit, dikarenakan kita sudah terbiasa membaca Al-Qur’an seakan-akan ia mantra-mantra yang tak bermakna. Hanya dengan kesungguhan dan terus mencoba, kita akan terbiasa untuk membaca dengan teliti, tanpa harus merasa jemu.

Kelima, merespon apa yang kita baca.

Al-Qur’an adalah Kalamullah yang ditujukan kepada kepada semua umat manusia, ia ditujukan kepada saya, anda, dan orang-orang selain kita tanpa terkecuali. Oleh karena itu dalam Al-Qur’an kita bisa menemukan: tanya dan jawab, janji dan ancaman, serta perintah dan larangan.

Maka kita harus merespon hal-hal yang kita baca dalam Al-Qur’an, menjawab pertanyaan-pertanyaannya, melaksanakan perintahnya dengan bertasbih, hamdallah, istighfar dan sujud ketika kita mendapatkan ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk itu, dan juga mengucapkan amin setiap melewati ayat-ayat yang berisi do’a. Meminta perlindungan kepada Allah dari panasnya api neraka ketika membaca ayat-ayat yang berhubungan dengan neraka, juga sebaliknya memohon surga ketika membaca ayat-ayat yang bercerita tentang surga.

Demikianlah Rasulullah saw. memberikan petunjuk kepada kita dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, dan sebagaimana dicontohkan para sahabat yang mulia. Begitu juga melakukan shalat malam dengan hal ini dapat menambah kekhusyu’an, teliti dalam membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan tanpa merasa jenuh.

Keenam, pahamilah maknanya secara global.

Sebagian di antara kita ketika memulai untuk mentadaburi Al-Qur’an, dia berusaha untuk memahami Al-Qur’an kata perkata yang membuatnya merasa kesulitan untuk melakukannya, terputus-putus dalam membacanya, pada akhirnya ia akan merasa bosan dan kembali membaca Al-Qur’an tanpa tadabbur dan pemahaman. Namun adakah cara yang membuat kita bisa mentadaburi Al-Qur’an tanpa harus terputus-putus dalam membacanya?

Satu-satunya cara yang mudah untuk mempraktekan kedua hal ini dalam waktu yang bersamaan adalah dengan memahami makna secara global per ayat. Dan ketika kita menemukan beberapa kata yang sulit untuk di pahami, maka cukuplah bagi kita untuk meletakannya sesuai dengan makna yang kita dapatkan dari makna ayat tersebut secra global. Seperti saat kita membaca tulisan berbahasa asing lainnya, misalkan bahasa inggris, ketika tidak tahu arti beberapa kata, maka bisa dipahami dari makna kalimat secara umum.

Begitulah Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita dalam sabdanya :

إنّ القرأن لم ينزل يكذّب بعضه بعضا, بل يصدق بعضه بعضا , فما عرفتم منه فعملوا به , وما جهلتم فردوه إلى عالمه

“Sesungguhnya Al-Qur’an tidak diturunkan untuk mendustakan antara satu bagian dengan bagian lainnya, tetapi membenarkan antara satu bagian dan bagian lainnya, maka apa-apa yang kau ketahui darinya maka amalkanlah, dan apa-apa yang tidak kau ketahui maka tanyakanlah kepada orang yang tahu.”

Dengan cara seperti ini tadabur Al-Qur’an bukanlah hal yang sulit bagi setiap orang.

Namun bukan berarti kita tidak perlu membaca kitab-kitab tafsir dan mengetahui makna kata perkata, karena tafsir mempunyai peranan yang sangat besar untuk menjaga pemahaman yang benar, dan merupakan pokok untuk mengetahui hukum-hukum syar’i, dan jangan sampai kita mengambil kesimpulan sendiri dari ayat-ayat Al-Qur’an. Sejarah umat Islam telah menyaksikan berbagai penyimpangan yang terjadi disebabkan pengambilan hukum berdasarkan penafsiran pribadi tanpa memiliki keahlian di dalamnya, seperti kaum khawarij dan aliran sesat lainnya.

Dengan peranan tafsir yang begitu besar maka kita harus mempunyai waktu khusus untuk itu, selain waktu tilawah, karena kita tidak ingin selesainya kita tilawah Al-Qur’an hanya pemahamannya saja yang bertambah, namun juga harus disertai hati yang hidup. Dan ini membutuhkan pertemuan langsung dengan Al-Qur’an, mengizinkan pengaruh-pengaruh kuat yang meresap dalam jiwa kita yang terus menanjak saat kita meneruskan bacaan, dan mengizinkannya masuk ke dalam jiwa kita dengan pengaruhnya yang kuat dan merespon ayat-ayat yang kita baca.

Ketujuh, mengulang-ulangi ayat yang menyentuh hati.

Dan ini adalah sarana paling penting yang membantu mempercepat dalam memetik manfaat dari Al-Qur’an. Sedangkan berbagai sarana sebelumnya walaupun sama pentingnya tetapi ia ditujukan kepada akal pikiran yang menjadi tempat bagi ilmu dan pegetahuan, sedangkan keimanan bersumber pada hati. Hati adalah tempat berkumpulnya perasaan dan emosi dalam jiwa manusia, dan sebanyak kadar keimanannya itulah seseorang akan tergerak melakukan amal shalih.

Artinya, iman adalah perasaan dan emosi. Ada “gejolak” saat jiwa kita merasakan adanya respon balik dan luapan emosi keimanan, yang kita rasakan dalam do’a-do’a kita atau dalam shalat kita atau saat kita membaca Al-Qur’an menyebabkan bertambahnya iman dalam hati kita.

Bacalah dan iman pun bertambah.

Allah Ta’ala berfirman:

وإذا تليت عليهم آياته زادتهم إيمانا و على ربهم يتوكلون [الأنفال 2]

” dan apabila di bacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka(karenanya) dan mereka bertawakal kepada Rabb mereka”{al-anfal 2}

Al-Qur’an adalah sarana utama dalam bertambahnya keimanan pada diri seseorang. Dikerenakan Al-Qur’an mengandung pelajaran-pelajaran sangat berharga yang mengugah perasaan dan menerangi jiwa, maka terjadilah respons balik dengan pikiran dan perasaan.

Benar…pada permulaannya sangat jarang kita menemukan “gejolak” luapan emosi keimanan tadi, akan tetapi dengan seringnya kita membaca Al-Qur’an sesuai dengan sarana-sarana sebelumnya, “gejolak” itu akan datang lebih sering lagi setiap kita membaca Al-Qur’an.

Apa yang kita lakukan saat “luapan keimanan” itu datang?

Kesempatan yang datang itu harus kita petik dengan baik, berusahalah agar cahaya iman dapat masuk ke dalam jiwa kita sebanyak-banyaknya dalam “luapan keimanan” itu, dan hal itu bisa kita lakukan dengan mengulang-ulang ayat yang menggugah perasaan kita, jangan sampai merasa bosan untuk melakukannya selagi jiwa kita masih merespons, inilah yang dilakukan para shahabat dan salafu’shalih—ridwanullah alaihim.

Diriwayatkan dari Ubadah bin Hamzah ia berkata, “Suatu hari saya menemukan Asma shalat dan membaca ayat:

فمنّ الله علينا و وقانا عذاب السموم [الطور 27]

Maka Allah memberi karunia kepada kami dan memelihara kami dari adzab neraka

(At-Thur 27)

maka saya pun diam –memperhatikannya- kemudian dia mengulang-ulang ayat itu dan berdo’a dalam shalatnya, saya kemudian pergi ke pasar, menunaikan kebutuhan saya, dan pulang kembali. Saya temukan dia masih mengulang-ulang ayat tersebut dan berdo’a.”

Dengan mengulang-ulang ayat yang menyentuh hati, akan melipatgandakan potensi keimanan dalam jiwa hamba, dan dianjurkan untuk meneruskanya dengan tangisan dan do’a, Allah swt. berfirman:

إنّ الذين أوتوا العلم من قبله إذا يتلى عليهم يخرون للأذقان سجدا{107}و يقولون سبحان ربنا إن كان وعد ربنا لمفعولا {108} ويخرون للأذقان يبكون ويزدهم خشوعا {109}

Sesungguhnya orang-orang yang diberikan pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. Dan mereka berkata : Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti penuhi. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’

(Al-Isra 107-109)

PENUTUP

Sarana-sarana ini merupakan kiat-kiat paraktis dan tidak sulit untuk dilaksanakan, tinggallah kemauan keras kita untuk mau berubah, kemauan yang dengan mudah kita dapatkan pada diri setiap orang atas anugrah dari Allah swt., oleh karena itu kita ungkapkanlah ia dengan doa agar Allah swt. memudahkan jalan kita untuk kembali kepada Al-Qur’an dan mengambil manfaat darinya. Allah swt. berfirman:

و قال ربكم أدعونى أستجب لكم [غافر 60]

“dan Tuhan kalian berkata. Berdoalah padaku niscaya aku kabulkan,” (ghofir 60)

Setiap kita harusnya melihat dengan jelas sasaran yang akan dicapai dalam kehidupannya yaitu “al qalbu al hay” (hati yang hidup), hati yang oleh Rasulullah diceritakan tanda-tandanya:

الإنابة الى دارالخلود, والتجافى عن دار الغرور , والإستعداد للموت قبل نزوله

“Kerinduan pada kampung keabadian, merasa jauh dengan dunia yang menipu, menyiapkan diri untuk kematian sebelum ia datang”

Maka teruskanlah untuk membaca Al-Qur’an dengan cara-cara seperti tadi sepanjang umur kita. Al-Qur’an adalah sebaik-baiknya pemimpin menuju Allah dalam kehidupan yang disesaki oleh fitnah dan syahwat.

Dan terakhir, Wahai Saudaraku tercinta..!

Apabila kau menginginkan kebahagiaan pada dirimu dan keluargamu maka kembalilah kepada Al-Qur’an, apabila kau menginginkan izzah (kemuliaan) dan kemenangan untuk umatmu maka berpegang teguhlah pada Al-Qur’an, karena di dalamnya terdapat segalanya yang kau butuhkan untuk merealisasikan hal itu, Allah swt berfirman:

أو لم يكفهم أنّا أنزلناعليك الكتاب يتلى عليهم [العنكبوت 51]

Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka?(al-ankabut 51)

Di saat anda sudah merasakan indahnya hidup bersama Al-Qur’an, memetik makna-makna yang terdapat di dalamnya, dan di saat anda mengecap kemanisan iman, janganlah lupa untuk mendoakan saya (dan orang-orang yang membantu terbitnya buku ini) dan saudara-saudara kaum muslimin di berbagai penjuru dunia agar memperoleh maghfirah, rahmat dan mendapatkan husnul khatimah.

Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada baginda kita Nabi Muhammad saw dan kepada para shahabatnya.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya sempurnalah segala kebaikan. Amin. (Rijalul Imam)

sumber : infokammi.blogspot.com

Tentang kammiunnes

KAMMI adalah salah satu organisasi elemen gerakan mahasiswa (EGM) ekstra kampus yang berideologi Islam.
Tulisan ini dipublikasikan di Opini, Pena - pena yang tajam dan tag , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s