Komitmen Terhadap Pancasila (Refleksi Peringatan Hari Kesaktian Pancasila)

oleh Mahardhika Setyawan (Ketua KAMMI Komisariat Unnes 1432 H)
Pada awal Oktober lalu, rakyat Indonesia memperingati hari Kesaktian Pancasila. Hari dimana kita mengingat perjuangan bangsa Indonesia menumpas gerakan makar yang terjadi tanggal 30 September yang dilakukan oleh PKI. Begitulah kesaktian Pancasila, mampu mempersatukan elemen bangsa Indonesia waktu itu. Dasar-dasar nilai yang terkandung dalam Pancasila selalu menjadi elemen penggerak perubahan bangsa Indonesia dari waktu ke waktu. Komitmen untuk melaksanakan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila secara benarlah yang membuat bangsa ini selalu melaukan perubahan dari waktu ke waktu.
Di fase awal kemerdekaan, simpul komitmen terhadap Pancasila adalah cita-cita bersama mewujudkan negara yang mampu memenuhi hajat bangsa. Dan hajat bangsa itu dikonstruksikan dalam UUD 1945 dimana butir-butir Pancasila dimasukkan ke dalam Pembukaan UUD 1945. Di era Orde Lama, komitmen terhadap Pancasila kuat karena cita-cita nasional bangsa Indonesai terus didengungkan, walaupun berada dalam kemiskinan dan ketertinggalan di berbagai bidang. Presiden Soekarno pun terpersonalisasi dengan ide dan jiwa Pancasila. Dan, jatuhnya Orde Lama juga karena muncul persepsi massa bahwa negara mulai gagal memnuhi hajat bangsa seperti dicitakan dalam Pancasila dan UUD 1945. Lalu Orde Baru pun muncul, lalu kita mengenal P4 untuk membangun soliditas ideologi Pancasila dan program pembangunan Repelita. Pada awalnya terbangun kembali kepercayaan dan komitmen terhadap Pancasila, seiring dengan mulai nampaknya hasil pembangunan di mata rakyat. Namun, pada pertengahan Orba, mulai muncul paradoks baru. Kaum terdidik menilai karakter kekuasaan Orba bertabrakan dengan nilai-nilai Pancasila. Lalu muncul tren di generasi muda yang berpersepsi minor terhadap Pancasila akibat dominasi tafsir dan paradoks kekuasaan yang a-Pancasila-is. Akhirnya di era 90-an menguat gerakan perlawanan pro-demokrasi dan reformasi dengan isu bersama lawan KKN rezim Orba yang a-Pancasila-is. Bisa dikatakan, perlawanan terhadap Orba ini muncul karena penilaian terhadap negara yang gagal mewujudkan cita-cita nasional, Indonesia terjebak dalam krisis multidimensi.
Bisa kita katakan, komitmen rakyat Indonesia terhadap Pancasila sangat ditentukan oleh sejauh mana pengusa mampu mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia. Munculnya gerakan separatisme seperti RMS, OPM, dan lain-lain, terorisme, dan tindakan radikalisme lainnya lebih sebagai ekspresi kekecewaan rakyat terhadap kegagalan negara untuk menunaikan amanah UUD dan paradoks karakter kekuasaan yang anti Pancasila. Dan kegagalan menunaikan amanah UUD dan paradoks karakter kekuasaan yang anti Pancasila inilah yang menyebabkan krisis komitmen terhadap Pancasila terjadi saat ini.
Mari melihat fakta di lapangan. Bagaimana permisivisme moral yang sekarang ini nyaris meminggirkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Bagaimana dengan Indeks Pembangunan Manusia dan penjagaan HAM yang lecehkan sila Kemanusiaan yang adil dan beradab. Belum lagi realitas yang paradoks dengan sila Persatuan, Permusyawaratan, dan Keadilan Sosial.
Pada akhirnya mari kita mengevaluasi bersama kondisi Indonesia saat ini dan mari berlomba-lomba dalam kebaikan dengan berkontribusi sebaik mungkin untuk membangun Indonesia menjadi bangsa yang selalu lebih baik dari masa ke masa. Tanggal 1 Oktober sebagai hari Kesaktian Pancasila hendaknya bisa menjadi momentum kita bersama untuk memperbaiki komitmen dan mengevaluasi diri kita selalu. Wallahua’lam.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s